Perkembangan Bimbingan Konseling di Indonesia dan Amerika
Halo Sobat! Welcome!
Pembahasan
kali ini adalah sedikit tentang sejarah dan juga perkembangan, hmmm udah berasa
vibes IPS belom? haha. Sejarah dan perkembangan yang kita bahas adalah mengenai
bimbingan dan konseling yang ada di Indonesia dan Amerika. Yuk kita mulai
bahas!
A.
Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Amerika
Dalam perkembangan bimbingan
konseling ini, di amerika memiliki 5 era perkembangan yakni yang pertama era
perintisan, PD I, PD II, perang dingin, dan globalisasi-sekarang.
·
Era Perintisan
Pada era ini terdapat satu
tokoh bernama Frank Parsons yang dijuluki menjadi Bapak Gerakan Bimbingan dan
Konseling di dunia pendidikan AS. Ia mengorganisasikan lembaga kecil independen
untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran (informasi) anak-anak (siswa). Selain itu
juga melatih para guru untuk dapat bekerja sebagai konselor atau pengarah dari
tujuan kerja maupun kesulitan belajar dari anak anak (siswa).
Setelah itu Frank menerbitkan
bukuberjudul Choosing a Vacation yang berisikan peran guru sebagai
konselor dan juga teknik yang digunakan oleh seorang konselor. Upaya perintisan
bukunya ini sangat popular dan menjadi pengenalan yang berhasil kepada
masyarakat serta juga membantu masyarakat menemukan pekerjaan baru yang
membantu orang lain yakni Bimbingan dan Konseling. Ruang lingkup dari konselling
saat itu adalah dari segi pendidikan, rehabilitasi, pekerjaan, keluarga,
sosial, dan ketergantungan obat serta penyimpangan perilaku.
Kemudian di tahun 1913 terdapat
satu organisasi bernama National Vocational Guidance Assocoation sebagai
wadah yang menampung anak-anak yang belum berpengalaman bekerja. Nama ini
popular hingga 50 tahun setelahnya, dan pada tahun ke 60 berubah menjadi Career
Education and Guidance Movement yang artinya Gerakan pendidikan dan
pendidikan karir (Bimbingan Kerja)
·
Era Perang Dunia I
Di era ini mengalami
perkembangan yang cukup signifikan di dalam bidang psikologi utamanya
pendidikan. Hal ini menimbulkan gerakan untuk melakukan tes dan juga
pengembangan tes psikologi standar baik secara kelompok maupun individu. Dan
juga terdapat gerakan kesehatan mental. Kemudian ada psikolog bernama Alfred
Binet dan Theodore Simon yang memperkenalkan tes kecerdasan untuk pertama
kali.Teori tentang kecerdasan ini kemudia versi terjemahannya dikenalkan oleh
Lewis M di AS dan alhasil tes kecerdasan itu populer di sekolah dan juga
digunakan di Universitas Stanford.
Saat memasuki Perang Dunia I pihak
militer mencari alat tes untuk menguji wamil yang dinamakan “Army Alpha
TestÔ yang kemudian diambil dari tes kecerdasan yang sudah popular tadi.
Tes ini diambil karena dapat dilakukan secara cepat, singkat dan terbukti bagus
hasilnya.
Setelah perang berakhir, tes
ini berkembang dengan teknik psikometri yang lain dan diujikan serta terus
dikembangkan di sekolah-sekolah hingga menghasilkan kemajuan yang
besar.Kemudian di tahun 1920 an terjadi terobosan baru lagi di dunia pendidikan
yang mana akhirnya memecahkan beberapa hal dan merumuskan bahwa pembelajaran
itu bisa dilakukan dengan banyak cara, kemudian lingkungan (ruang kelas
misalnya) jua berpengaruh terhhadap siswa, jadi semua hal tersebut juga harus
disesuaikan bersama demi mencapai tujuan yang baik.
Di era ini juga dikenal magang
pertama kali, sebagai istilah untuk pemuda-pemudi yang berpartisipasi mengikuti
tes konseling dan kemudian menjalankan praktik (yang harus didampingi oleh
ahlinya).
·
Era Perang Dunia II
Pada era Perang Dunia II ini
banyak orang yang sudah mengenal bimbingan konseling dan mereka merasakan
manfaat dari bimbingan itu sendiri. Asosiasi/kumpulan guru New York AS membuat
laporan bahwa bimbingan dan konseling itu dapat membantu proses pengarahan penyesuaian
hidup bagi setiap individu.
Pada era ini juga mulai
mengenalkan bimbingan dan konseling di jenjang SD diajukan oleh gerakan guru
mestinya berperan dalam menyiapkan segala kebutuhan dan bimbingan pendidikan
siswa selama berada dalam kelas. Akhir Perang Dunia II gerakan bimbingan mulai
mendapati wajah baru karena pengaruh yang besar kepada masyarakat. Hal ini
dikemukakan oleh Carl Rogers. Rogers mengusulkan 2 teori baru di dua
konselingnya yakni :
1)
Counseling and Phsycoterapy
2)
Client centered Therapy
Dalam buku pertama Rogers
menawarkan konseling non-direktif sebagai alternatif dari metode tradisional
yang lebih direktif. Dia menekankan tanggung jawab klien untuk memahami masalah
klien sendiri dan mendorong mereka untuk bergerak maju. Teori ini disebut
"non-direktif" karena kontras dengan pendekatan tradisional yang
berfokus pada intervensi konselor untuk mengatasi masalah siswa. Buku kedua mengusulkan pergeseran semantik dari
konseling non-direktif ke konseling "berpusat pada klien", tetapi
yang lebih penting, buku ini berfokus pada potensi pertumbuhan klien. Dampak
luar biasa dari Rogers ini telah menyebabkan penekanan pada konseling sebagai
kegiatan utama dan dasar konselor sekolah. Pada tahun 1940-an, Rogers juga
memperkenalkan konseling kelompok.
·
Era Perang Dingin
Konselor sekolah telah dilatih
dan ditingkatkan. Standar yang digunakan oleh badan akreditasi untuk
mengevaluasi program instruksional sekolah telah diperkuat dan pelatihan
instruksional telah membuat kemajuan yang signifikan. Pernyataan perencanaan
untuk konselor sekolah menengah pada tahun 1960 oleh School Counselors Association (1964)
disiapkan dan disetujui sebagai pernyataan kebijakan resmi oleh American School
Counselors Association (ASCA). Lebih dari 6.000 konselor sekolah, guru,
administrator sekolah dan pendidik lainnya berpartisipasi dalam upaya ini untuk
mendefinisikan peran dan fungsi konselor sekolah. Pengembangan Asosiasi
Konselor Amerika:
1.
Staf dan bimbingan Amerika Asosiasi (APGA)
2.
Dengan Asosiasi Konseling Amerika Pengembangan (AACD)
1983
3.
Dewan Penasehat Amerika.
·
Era Globalisasi-Sekarang
Pada tahun 1981, CACREP (Dewan
Akreditasi Program Konseling dan Pendidikan Terkait), sebuah divisi
terakreditasi dari ACA, didirikan. CACREP secara khusus didirikan untuk
mengembangkan penerapan dan penerapan standar untuk mempersiapkan tingkat
penyelesaian program pelatihan konseling profesional. CACREP versi 2001
mengatakan:
1.
Identitas profesional K
2.
Keanekaragaman sosial dan budaya
3.
Pertumbuhan dan perkembangan manusia
4.
Pengembangan karir
5.
Hubungan bantu
6.
Kerja kelompok
7.
Evaluasi
8.
Riset dan evaluasi program
B.
Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Perkembangan bimbingan
konseling di Indonesia juga memiliki tahap yakni 6 dekade perkembangan yang pertama
dekade 40, 50, 70, 80, 90-sekarang.
·
Sebelum Kemerdekaan
Masa ini adalah masa penjajahan
Belanda dan Jepang, mahasiswa diajarkan untuk mengabdi pada kepentingan
penjajah. Dalam situasi seperti itu, upaya terarah dilakukan. Bangsa Indonesia
berusaha memperjuangkan kemajuan
Indonesia melalui pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dikelola
oleh K.H. Dewantara yang menanamkan nasionalisme di kalangan murid-muridnya.
Dari segi arahan, inilah yang menjadi dasar
pelaksanaan arahan tersebut.
·
Dekade 40-an
Pada dekade 40 an ini bimbingan
banyak dibutuhkan dalam hal pendidikan. Perjuangan kemerdekaan pada masa ini
difokuskan dalam memajukan pendidikan. Melalui pendidikan ini adalah satu upaya
memberantas buta huruf masyarakat yang kemudian secara bertahap menjadikan
setiap individu menjadi lebih bisa mendapat pembelajaran. Sesuai dengan Undang
Undang Dasar dan juga dasar pancasila yaitu Pancasila hal tersebut merupakan
bentuk dari bimbingan itu sendiri.
·
Dekade 50-an
Wilayah pendidikan menghadapi
hambatan besar untuk mengatasi masalah kebodohan dan keterbelakangan bangsa
Indonesia. Kegiatan pembelajaran pada
dekade ini lebih bersifat implisit dalam berbagai kegiatan pendidikan
dan memang menghadapi tantangan untuk membantu siswa sekolah berprestasi.
·
Dekade 60, 70-an
Kisah pengenalan Bimbingan dan
Konseling di Indonesia pada dekade ini diawali dengan masuknya Bimbingan dan
Konseling (sebelumnya Bimbingan dan Konseling) ke dalam lembaga pendidikan. Ide
ini dimulai pada tahun 1960. Salah satu
hasil Konferensi Fakultas Ilmu
Pendidikan (disingkat FKIP, kemudian
menjadi IKIP) di Malang pada tanggal 20-24 Agustus 1960. Perkembangan
selanjutnya pada tahun 1964, IKIP Bandung dan IKIP Malang membentuk Badan Pembina
dan Pembina.
Selama dekade ini, orientasi
dilakukan pada tingkat konseptual dan operasional. Melalui upaya ini, semua
pihak mengalami apa, mengapa, bagaimana dan di mana bimbingan dan nasihatnya.
Tahun 1971, didirikan Proyek Pengembangan
Sekolah Perintis (PPSP) di delapan IKIP,
yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang,
IKIP Surabaya, IKIP Malang dan IKIP Menado. Melalui proyek ini, bimbingan dan
konsultasi dikembangkan dan "Model Dasar Perencanaan Bimbingan dan Penyuluhan"
PPSP berhasil dikembangkan. Pengenalan kurikulum 1975 untuk sekolah menengah
termasuk instruksi dan instruksi konseling.
Pada tahun 1978 diselenggarakan program
bimbingan dan konseling PGSLP dan PGSLA
di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan pengajar dan
konselor di sekolah-sekolah yang sampai saat itu belum ada alokasi guru BP
jenjang sarjana orientasi dan ekstensi. Pengangkatan pengajar dan konselor di
sekolah telah dilakukan sejak berdirinya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Bimbingan.
Adanya bimbingan dan nasehat resmi diakui oleh undang-undang pada tahun 1989
dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri No. 026/Menpan/1989 tentang Angka SKS
untuk Jabatan Guru di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kimia. Dalam Kepmen
tersebut secara resmi ditetapkan bahwa
akan ada kegiatan layanan konseling di sekolah-sekolah. Namun, implementasinya
di sekolah masih belum sejelas yang diperkirakan semula untuk mendukung misi
sekolah dan membantu siswa mencapai tujuan pendidikannya.
·
Dekade 80-an
Pada dekade ini, bimbingan ini
diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk menuju kepada
perwujudan bimbingan yang professional. Dalam dekade 80an pembangunan telah
memasuki Repelita III, IV, dan V yang ditandai dengan menuju lepas landas.
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam
dekade ini :
1.
Penyempurnaan kurikulum
2.
Penyempurnaan seleksi mahasiswa baru
3.
Profesionalisasi tenaga pendidikan dalam berbagai tingkat
dan jenis
4.
Penataan perguruan tinggi
5.
Pelaksnaan wajib belajar (selama 12 tahun)
6.
Pembukaan universitas terbuka
7.
Berakhirnya UU Pendidikan Nasional
Beberapa tren yang dirasakan
pada saat itu adalah perlunya profesionalisasi pelayanan, manajemen terpadu,
sistem pelatihan pendampingan, legitimasi formal, stabilitas organisasi,
pengembangan konsep kepanduan yang berorientasi ke Indonesia, dll.
·
Dekade 90-sampe sekarang
Hingga tahun 1993, pelaksanaan
Bimbingan dan Konseling di sekolah masih belum jelas, dan lebih parahnya lagi,
pengguna khususnya orang tua memiliki pandangan yang kurang baik terhadap PB.
Diasumsikan anak yang masuk sekolah BP sama dengan anak bermasalah, jika diajak
ke sekolah oleh guru BP, orang tua mengira anaknya pasti bermasalah atau
bermasalah pergi ke sekolah. Hingga terbitnya Peraturan Menteri No. 83 Tahun
1993 tentang Jabatan Guru dan Nilai SKS, termasuk Pedoman Bimbingan dan
Konseling di Sekolah. Ketentuan pokok Kepmen tersebut dikonkretkan dengan
Kepmendikbud No. 025 Tahun 1995 sebagai pedoman pelaksanaan jabatan dan nilai
kredit bagi guru. Dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini istilah
bimbingan dan konseling diganti dengan bimbingan dan konseling di sekolah dan
dipimpin oleh guru. Di sinilah model pelaksanaan bimbingan dan konseling di
sekolah mulai terbentuk.
Referensi
:
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005).
Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN
Susiana (2010), Sejarah Singkat Lahirnya Bimbingan
Konseling. https://www.susiana.eu.org/2020/08/sejarah-singkat-lahirnya-bimbingan-konseling.html
diakses pada 1/6/22 pukul 10.29
Komentar
Posting Komentar